Guru makida mosusuakana dala, Mori matapa mondo te katandaina
Jumat, 14 Juli 2017
Anak-Anak Subuh
Ada anak lelaki yang hampir setiap subuh ikut berjamaah, ia berdiri dan duduk persis di sebelah Ayahnya. Meniru semua gerakan Ayahnya, si Ayah sholat sunnah ia ikut, begitu seterusnya.
Ada anak usia sekitar tiga tahun yang kadang-kadang ikut Ayahnya ke masjid. Wajahnya terlihat baru bangun tidur, masih pakai diapers pula. Berdiri persis di samping Ayahnya mengikuti Ayahnya sholat sunnah sebelum subuh. Sampai gerakan sujud nggak bangun lagi, hingga Ayahnya selesai sholat, ternyata ia tertidur sambil sujud.
Ada lagi anak yang usianya juga sekitar tiga tahun. Juga berdiri di sebelah Ayahnya, namun pada saat sholat subuh tak berapa lama setelah takbir dan Imam membaca alfatihah, ia ngeloyor meninggalkan barisan. Hingga sholat subuh usai, biasanya ia duduk di pojok masjid menunggu Ayahnya selesai.
Ada pula Ayah yang membawa anaknya ke masjid dalam kondisi masih terlelap. Di gendong turun dari mobilnya, sampai ke masjid dan bahkan hingga jamaah bubar si anak tetap terlelap. Meski sang Ayah sudah mencoba membangunkannya. Maklum, masih usia dua tahun.
Yang menarik ada anak yang rajin ke masjid padahal tidak ada Ayahnya. Entah bagaimana ibunya mendidik, menarik pastinya. Meski tanpa Ayah yang sudah lama meninggal, ia tetap rajin ke masjid.
Selama masih ada barisan anak-anak yang berangkat ke masjid di subuh hari, meskipun dengan berbagai kepolosan perilakunya, maka masih jelas masa depan agama ini.
Selama masih ada orang tua, terutama para Ayah yang berupaya mengajak serta anak-anaknya sholat subuh berjamaah di masjid, akan kokohlah barisan pejuang agama Allah. Negara pun akan selamat.
Khawatir lah bila sudah tidak ada kalangan muda dalam barisan jamaah subuh di masjid-masjid, bagaimana nasib ummat ini di masa datang?
Ada riwayat yang terbaca, salah satu rahasia kehebatan para pejuang Aceh, yang membuat penjajah kesulitan mengalahkan rakyat Aceh adalah, Teuku Umar dan para panglima memilih pasukannya dari masjid-masjid di waktu subuh.
Mereka yang bangun subuh adalah para pejuang. Orang-orang yang bersungguh-sungguh, yang telah bisa mengalahkan rasa lelah dan malasnya, tak turuti kantuknya, menguasai egonya.
Kagum kepada para orang tua yang tak lelah mengenalkan, mengajarkan dan memberi contoh kepada anak-anaknya untuk sholat berjamaah subuh di masjid. Kelak anak-anak ini menjadi pribadi yang tangguh raga dan jiwanya.
Tak perlu khawatir, bila subuh saja bisa dikuasai, kelak masa depan bisa digenggam. @bayugawtama
Diambil dari: Ikhwan NURASH #1 whatssapp group (14/07/17 - 07:05 Wib)
Rabu, 01 Februari 2017
Fostering Student’s Higher-order Thinking Skill Through Problem-Based Learning in Calculus
Hasan Djidu & Jailani
Keywords: fostering,
higher-order thinking skill, problem-based learning, problem, calculus
This Article was presented at 3rd International
Conference on Research Implementation and Education of Mathematics and Science
- Yogyakarta State University (16-17 May 2016)
Abstract—Problem-based Learning (PBL) is one of recommended learning models in
implementation of curriculum 2013. PBL provides opportunities for students to
construct knowledge, and enhance their thinking skills through the filling
of a problem as the starting point of learning process. Problems in PBL
requires students to regain access to prior knowledge that lead students to
think deeply. Thinking is infused in PBL when students plan, generate
hypothesis, employ multiple perspective, and work through facts and ideas
systematically. Problem resolution also involves logical and critical analysis,
use analogies and divergent thinking, and creative integration and synthesis.
Thinking Activities are needed by students, especially for understanding
difficult math materials. One of math material that need student’s thinking is
calculus. It consist of limit, derivative, and integral of function. Not only a
lot of students that have difficulties to learn calculus, but also teachers.
They have difficulties in how to teach this material. Therefore, PBL is the
most suitable method that can be an
alternative to teach calculus. In conclusion, PBL activities in the classroom
will foster student’s higher-order thinking skill.
Ref: Djidu, H., &
Jailani. (2016). Fostering student’s higher-order thinking skill through
problem-based learning in calculus. In Proceeding
of 3rd International Conference on Research, Implementation and Education of
Mathematics and Science (pp.
127–130). Yogyakarta: Faculty of Mathematics and Science-Yogyakarta State
University. Retrieved from
http://seminar.uny.ac.id/icriems/sites/seminar.uny.ac.id.icriems/files/prosiding/ME-19.pdf
Artikel selengkapnya silahkan klik tautan berikut:
Aktivitas Pembelajaran Matematika yang Dapat Melatih Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa
Hasan Djidu & Jailani
Disampaikan pada
Seminar Nasional Matematika (SEMNASMAT) X UNNES - Universitas Negeri Semarang (29 Oktober
2016)
Abstrak—Kemampuan
berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kemampuan yang dibutuhkan siswa
dalam menghadapi tantangan dunia global. Proses pembelajaran di kelas memiliki
peran besar dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Namun
demikian, kemampuan berpikir tingkat tinggi bukan merupakan dampak langsung
dari suatu proses pembelajaran. Kemampuan ini terbangun melalui lingkungan
pembelajaran yang memfasilitasi siswa untuk mendayagunakan kemampuan berpikir
tingkat tingginya. Oleh
karena itu, kemampuan berpikir tingkat tinggi harus dilatih dan dikembangkan
melalui pembelajaran di kelas. Aktivitas siswa dalam pembelajaran yang dapat
melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi tersebut adalah: (1) berbagi ide
matematika melalui diskusi kelompok; (2) mengidentifikasi dan merumuskan hal-hal penting dari
masalah; (3) penyelidikan dan pemecahan masalah; (4) mengkomunikasikan hasil
pemecahan masalah; (5) mengevaluasi hasil dan menarik kesimpulan. Sementara
itu, aktivitas guru yaitu: (1) menyajikan masalah; (2) mengorganisasikan siswa
dalam kelompok belajar; (3) memberikan scaffolding (bantuan) selama proses penyelidikan
hingga pada tahap penarikan kesimpulan; dan (4) menggunakan
pertanyaan-pertanyaan tingkat tinggi.
Kata Kunci:
Pembelajaran matematika, kemampuan berpikir tingkat tinggi
Artikel selengkapnya:
Langganan:
Postingan (Atom)