Arsip Blog

Rabu, 08 September 2021

Laporan Perkuliahan I Filsafat Penelitian dan Evaluasi Pendidikan bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A

Oleh: Hasan Djidu, M.Pd.  
[Mahasiswa Program Doktor Penelitian dan Evaluasi Pendidikan - UNY]
Sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=8t3lalvQbiQ  -- Kanal YouTube Prof. Marsigit : Marsigit GB

Setelah menyaksikan video perkuliahan filsafat bagian 1 yang disampaikan oleh Prof. Marsigit saya mendapatkan banyak pengetahuan yang berkaitan dengan filsafat pendidikan. 

Prof. Marsigit mengawali perkuliahan filsafat ini dengan memberikan penjelasan tentang keterbatasan, ketidaksempurnaan, ketidakmampuan manusia dalam berbagai hal. Prof. Marsigit memperjelas prinsip tersebut dengan merinci berbagai sifat-sifat yang melekat pada manusia (sifat fisik, maupun metafisik) dan menekankan bahwa ketidakterbatasan, kesempurnaan, dan segala kemampuan hanya dimiliki oleh Allah, Pencipta Alam Semesta. Dari pembuka perkuliahan ini Prof. Marsigit telah menanamkan nilai-nilai spiritual dan karakter kepada mahasiswa yang merupakan fondasi utama sebelum mendalami ilmu filsafat. 

Model penyampaian Prof. Marsigit dalam menjabarkan prinsip-prinsip dasar berfilsafat dengan cara memberikan komparasi antara sifat/ karakteristik dari satu cara pandang dan cara pandang lainnya. Dalam konteks ini, Prof. Marsigit memberikan penjelasan mengenai keterbatasan manusia dalam banyak hal, dan ketidakterbatasan Sang Pencipta dalam semua hal. Diantara sifat-sifat yang disampaikan oleh Prof. Marsigit adalah: berubah (tidak tetap), memilih, ikhtiar, dan bergantung pada hukum alam seperti terlihat pada Gambar 1.

Setelah menyaksikan video perkuliahan filsafat bagian 1 yang disampaikan oleh Prof. Marsigit saya mendapatkan banyak pengetahuan yang berkaitan dengan filsafat pendidikan.

Prof. Marsigit mengawali perkuliahan filsafat ini dengan memberikan penjelasan tentang keterbatasan, ketidaksempurnaan, ketidakmampuan manusia dalam berbagai hal. Prof. Marsigit memperjelas prinsip tersebut dengan merinci berbagai sifat-sifat yang melekat pada manusia (sifat fisik, maupun metafisik) dan menekankan bahwa ketidakterbatasan, kesempurnaan, dan segala kemampuan hanya dimiliki oleh Allah, Pencipta Alam Semesta. Dari pembuka perkuliahan ini Prof. Marsigit telah menanamkan nilai-nilai spiritual dan karakter kepada mahasiswa yang merupakan fondasi utama sebelum mendalami ilmu filsafat.

 

Gambar 1: Sifat-sifat (fisik dan metafisik) yang menunjukkan keterbatasan manusia

Penjelasan Prof. Marsigit mengenai sifat-sifat yang melekat pada manusia diawal perkuliahan bermaksud agar para mahasiswa rendah diri, dan mampu menempatkan diri menurut ruang dan waktu. Kemampuan menempatkan diri menurut ruang dan waktu inilah yang disebut oleh Prof. Marsigit sebagai “cerdas” dalam filsfat. Sebaliknya, orang yang “bodoh” adalah orang yang tidak paham akan ruang dan waktu. Jika kecerdasan ini dikaitkan dengan penjelasan awal Prof. Marsigit mengenai sifat-sifat manusia, maka kita akan menemukan bahwa kecerdasan adalah kesadaran diri seorang individu akan posisinya yang sempurna dalam ketidaksempurnaan, dan tidak sempurna dalam kesempurnaan dan mengakui akan kekuasaan Pencipta akan segala mahkluk.

Selanjutnya, Prof. Marsigit menjelaskan mengenai berbagai pandangan-pandangan filsafat dan tokoh-tokohnya. Pandangan-pandangan yang dijelaskan antara lain: spiritualism, absolutism, idealism, realism, materalism, logicisme, coherenism, corespondentialism, apriori, aposteriori, rasionalism, skeptitism, empiricism. Adapun tokoh (filsuf) yang berkaitan dengan cara pandang bahwa segala sesuatu bersifat tetap (tidak berubah) adalah Parmenides, sedangkan disisi yang berseberangan adalah Heracliteios yang berpandangan bahwa segala di alam semesta tidak permanen (tetap) tetapi berubah-ubah. Tokoh rasionalism dan skeptitisme adalah R. Descartes yang kemudian bersberangan (ditentang) oleh D. Hume dengan pandangan empiricism, dan akhirnya ditengahi oleh I. Kant yang menjelaskan bahwa ilmu harus apriori, dan ilmu juga harus sintetik agar ilmu dapat berkembang. Menurut I. Kant ilmu tidak boleh hanya bersifat apriori atau sintetik, tetapi harus ada “perkawinan” kombinasi keduanya.

Disela-sela perkuliahan, Prof. Marsigit tetap mengarahkan mahasiswa agar senantiasa memohon ampun kepada Allah (berstigfar) ketika menjelaskan mengenai pandangan A. Compte (positivism) bahwa Agama tidak dapat digunakan untuk membangun dunia karena tidak logis. A. Compte menempatkan Spritualism dilevel paling bawah seperti yang terlihat pada Gambar 2. Prof. Marsigit juga menjelaskan bahwa pandangan A. Compte ini merupakan pandangan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai spiritual agama.

Gambar 2: Penggambaran pandangan A. Compte oleh Prof. Marsigit
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=8t3lalvQbiQ

Selanjutnya, Prof. Marsigit menjelaskan bagaimana cara pandang yang menjadi struktur dunia masa kini, mulai dari Archaic, Tribal, Tradisional, Feudal, Modern, dan Post-modern (powernow/ contemporer). Post modern ini dibackup oleh Capitalism, materalism, pragmatism, utilitarian, dan liberalism. Sementara itu, di Indonesia memiliki cara pandang PANCASILA yang sejak dulu telah mengalami berbagai tekanan dari pandangan-pandangan lain yang telah eksis di dunia.

Di akhir video perkuliahan, Prof. Marsigit kembali menyampaikan perlunya setiap mahasiswa untuk memahami berbagai pandangan tersebut agar tidak terombang-ambing dan terjebak oleh berbagai cara pandang yang merusak akidah. Dokumentasi akhir perkuliahan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3: Tangkapan layar akhir perkuliahan
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=8t3lalvQbiQ